Wahyu Betah Jadi Pengusaha Cacing

Puluhan cacing berwarna cokelat menggeliat di dalam besek yang beralaskan daun talas. Selain beberapa helai daun dan cacing, besek tersebut juga berisi setumpuk tanah. Tanah kering untuk cacing kalung dan tanah basah seperti lumpur untuk cacing sawah.

Tak perlu diberi makan, asal tanahnya berkualitas baik, dijamin cacing-cacing tersebut akan tetap hidup dan gemuk.

“Kalau cacing kalung sudah sebesar kelingking, bisa diolah untuk dijadikan obat panas atau tifus,” ujar Wahyu (45), si “pengusaha” cacing yang ditemui di rumahnya di Kampung Cijeungjing RT 4 RW 15, Desa Kertamulya, Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat, Selasa (14/4) lalu.

Tanpa ragu, resep obat menurunkan panas dan tifus dengan bahan dasar cacing kalung dipaparkan oleh Wahyu. Menurut dia, cairan berwarna kuning yang terkandung di dalam tubuh cacing adalah bagian terpenting untuk pengobatan. Setelah cacing diiris-iris, kemudian cacing diblender dicampur air panas agar bakterinya mati.

“Jika bahan sudah tercampur, tambahkan kunyit dan madu. Setelah itu diminumkan pada penderita panas atau tifus,” ungkap Wahyu.

Selain untuk mengobati panas dan tifus, manfaat cacing kalung dan cacing sawah yang Wahyu jual adalah untuk umpan memancing. Seperti Alo (28), salah seorang pembeli cacing di tempat Wahyu. Pagi itu, Alo bersama ayahnya bersiap untuk pergi memancing di Waduk Jatiluhur. Agar hasil tangkapannya banyak, dia membeli cacing-cacing milik Wahyu untuk dijadikan umpan.

“Saya selalu beli cacing sawah di sini. Sudah langganan, makanya dapat bonus. Beli dua besek, gratis satu bungkus cacing tambahan,” ucap warga Kota Cimahi ini.

Hampir lima tahun ini Wahyu akrab dengan hewan yang kerap membuat ibu-ibu geli ini. Dari cacing-cacing itu pula, Wahyu bisa membiayai keempat anaknya sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam satu hari omzetnya Rp 500.000,00, kalau sedang ramai seperti akhir pekan atau Lebaran, Wahyu bisa mengantongi Rp 1,5 juta setiap harinya.

Isteri Wahyu, Ny. Yayah (41) mengaku, tidak menyangka bisa mendapat penghasilan yang cukup besar dari berjualan cacing. Padahal awalnya, Yayah merasa jijik saat suaminya mulai memelihara puluhan cacing di rumah mereka.

“Saya sempat satu minggu enggak bisa makan karena jijik lihat cacing terus. Tapi, lama-lama jadi biasa, karena tiap hari bantu suami berjualan,” katanya,

Pasokan cacing Wahyu dapatkan dari para pencari cacing yang berjumlah sepuluh orang. Para pencari cacing ini biasa mencari cacing di beberapa wilayah Kota Bandung, Margaasih, Padalarang, Nanjung, dan Soreang. Wahyu biasa membeli cacing hasil tangkapan para pencari cacing Rp 35.000,00 per lima kilogram atau satu kencleng.

Selain Wahyu, di daerah Padalarang ada tiga belas penjual cacing kalung dan cacing sawah lainnya. Namun, menurut Wahyu, penjual lain mencari cacingnya sendiri, tidak memakai jasa pencari cacing seperti dirinya.

“Sampai sekarang saya masih betah jualan cacing. Risiko ruginya kecil, paling ada cacing yang mati saja,” ujar Wahyu.

(Windy Eka Pramudya/”PR”)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Wahyu Betah Jadi Pengusaha Cacing

  1. agung berkata:

    lam kenl pak””mw tnya nerima pesanan ke daerah bali nggk…n klo cacing sawahnya brp /kg.nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s